JAKARTA – Kepengurusan Asosiasi Pendidikan Ilmu Komunikasi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (APIK-PTMA) memasuki periode baru 2026–2028. Kepengurusan baru resmi diperkenalkan dalam rangkaian Silaturahmi APIK-PTMA (SILAT APIK-PTMA) ke-5 yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (UHAMKA), Jakarta, 24–26 Juni 2026.
Pergantian kepengurusan ini tidak hanya menjadi momentum seremonial, tetapi juga menjadi awal bagi APIK-PTMA untuk menyusun arah kerja menghadapi perkembangan dunia komunikasi dan transformasi digital.
Ketua APIK-PTMA periode 2026–2028, Agus Triyono, mengatakan perkembangan teknologi dan kompetensi digital membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak. Menurutnya, perubahan lanskap komunikasi yang berlangsung cepat membuat APIK-PTMA perlu terus menjaga relevansi sekaligus memperkuat identitas perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah.
“Transformasi digital dan penguatan kompetensi digital ini tidak bisa terjadi tanpa adanya kolaborasi dari semua elemen,” ujar Agus.
Ia menyampaikan bahwa kepengurusan baru akan mendorong pola kerja yang lebih kolaboratif. Salah satunya melalui kegiatan berbasis blended learning agar program APIK-PTMA dapat menjangkau lebih banyak perguruan tinggi tanpa bergantung pada kegiatan tatap muka.
Selain penguatan kompetensi digital, APIK-PTMA juga akan mendorong kolaborasi riset dan pengabdian antarperguruan tinggi. Agenda tersebut mencakup penguatan tata kelola jurnal, pengembangan riset komunikasi, serta publikasi yang memberikan dampak bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Dakwah digital menjadi salah satu perhatian
Di tengah perubahan pola komunikasi masyarakat, APIK-PTMA juga menempatkan dakwah digital sebagai salah satu agenda penting kepengurusan baru. Agus menyebut Program Studi Ilmu Komunikasi PTMA memiliki tantangan untuk memberikan kontribusi terhadap penguatan dakwah digital Muhammadiyah.
“Program studi komunikasi harus bisa memberikan pengaruh yang signifikan untuk dakwah digital persyarikatan Muhammadiyah,” katanya.
Menurut Agus, Ilmu Komunikasi PTMA juga diharapkan dapat mengambil peran dalam merespons berbagai persoalan sosial di ruang digital. Peran tersebut diarahkan pada penguatan literasi digital, pemberdayaan masyarakat, dan advokasi yang mencerahkan.
Selain itu, sinergi kurikulum juga menjadi bagian dari agenda ke depan. Pengembangan kurikulum diarahkan untuk memperkuat komunikasi dakwah, komunikasi digital yang beretika, serta pengembangan kapasitas masyarakat dalam menghadapi transformasi digital.
SILAT APIK-PTMA menjadi ruang kolaborasi
Pergantian kepengurusan tersebut berlangsung dalam rangkaian SILAT APIK-PTMA ke-5 yang mempertemukan Program Studi Ilmu Komunikasi dari berbagai PTMA. Selain pelantikan pengurus baru, kegiatan juga diisi dengan seminar internasional, forum komunikasi, kompetisi mahasiswa, kunjungan media, pengabdian masyarakat, hingga agenda penghargaan.
Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa, dosen, dan pengelola Program Studi Ilmu Komunikasi untuk bertemu sekaligus bertukar gagasan mengenai perkembangan komunikasi di tengah transformasi digital.
Dengan kepengurusan periode 2026–2028, APIK-PTMA membawa agenda untuk memperkuat jejaring antar-PTMA melalui kolaborasi yang lebih produktif. Pengurus baru juga mendorong setiap perguruan tinggi untuk mulai menghadirkan program yang dapat memberikan dampak nyata, baik melalui riset, pengabdian, publikasi, maupun pengembangan literasi digital.
“APIK PTMA ini untuk kolaborasi yang produktif, bertukar gagasan, saling menguatkan satu dengan yang lain, membesarkan ilmu komunikasi di perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah,” ujar Agus.