JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membawa perubahan besar dalam dunia komunikasi. Di tengah kemudahan teknologi dalam menghasilkan berbagai konten, mahasiswa Ilmu Komunikasi dituntut tidak hanya mampu mengikuti perkembangan digital, tetapi juga memahami etika dalam penggunaannya.

Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Silaturahmi APIK-PTMA (SILAT APIK-PTMA) ke-5 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (UHAMKA), Jakarta, pada 24–26 Juni 2026. Mengusung tema “Komunikasi Berdampak: Mendorong Transformasi Sosial Berkelanjutan melalui Inovasi Digital yang Etis,” kegiatan ini mempertemukan mahasiswa dan dosen Ilmu Komunikasi dari berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA).

Ketua Pelaksana SILAT APIK-PTMA ke-5, Andys Tiara, mengatakan tema tersebut dipilih sebagai respons terhadap perkembangan teknologi yang semakin cepat, khususnya kehadiran AI yang mulai memengaruhi berbagai bidang komunikasi.

“Ini adalah respons kita semua di bidang komunikasi terhadap disrupsi teknologi dan era AI,” ujarnya.

Sebanyak 18 PTMA dengan sekitar 120 peserta mengikuti rangkaian kegiatan. Selain menjadi ruang silaturahmi, SILAT APIK-PTMA juga menghadirkan berbagai kompetisi yang memanfaatkan perkembangan teknologi, seperti AI Generated Content kategori video dan poster, Community Based Public Relations Campaign, fotografi, hingga short semi documentary.

Namun, teknologi bukan satu-satunya hal yang menjadi perhatian. Rektor UHAMKA, Prof. Gunawan Suryoputro, menekankan pentingnya kemampuan komunikasi yang tetap berlandaskan moral dan etika di tengah perkembangan media sosial dan teknologi digital.

Menurutnya, lulusan Ilmu Komunikasi tidak cukup hanya menguasai keterampilan komunikasi modern. Mereka juga perlu memiliki nilai moral, etika, serta nilai-nilai Islam berkemajuan agar mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Hal senada disampaikan Perwakilan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Armai Arief. Ia mendorong Program Studi Ilmu Komunikasi PTMA untuk terus menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan industri dan teknologi, termasuk memasukkan pembelajaran mengenai komunikasi digital, analisis data, AI dalam komunikasi, komunikasi krisis, hingga komunikasi dakwah.

Sementara itu, Ketua APIK-PTMA periode 2026–2028, Agus Triyono, menegaskan bahwa perkembangan digital harus diikuti dengan kolaborasi antarperguruan tinggi. APIK-PTMA ke depan akan memperkuat riset, pengabdian masyarakat, publikasi, literasi digital, serta komunikasi dakwah yang relevan dengan perkembangan zaman.

Rangkaian SILAT APIK-PTMA ke-5 juga diisi dengan pelantikan pengurus APIK-PTMA periode 2026–2028, lokakarya, forum koordinasi nasional, kunjungan media, pengabdian masyarakat, kompetisi mahasiswa, hingga malam penghargaan dan parade budaya.

Melalui kegiatan tersebut, SILAT APIK-PTMA tidak hanya menjadi ruang kompetisi antarmahasiswa, tetapi juga menjadi forum untuk melihat bagaimana Ilmu Komunikasi menghadapi perubahan teknologi. Tantangannya bukan sekadar mampu menggunakan AI, melainkan bagaimana teknologi tersebut digunakan secara kreatif, bertanggung jawab, dan tetap berpegang pada etika.